Pernahkah hati kita berkata ”hidupku sudah cukup nikmat”?? Jika anda pernah berpikir hal itu berarti termasuk orang yang bersyukur atas nikmat-Nya. Atau termasuk orang yang mengutamakan nafsu dunia, selalu kurang, berarti nenek ini jauh lebih baik daripada anda.Memang kelebihan manusia mempunyai 2 hal, nafsu dan akal. Tidak seperti hewan yang hanya mempunyai nafsu tanpa dianugerahi akal dan akhlak. Nafsu akal dan akhlak itulah yang menjadikan manuasia memiliki derajad paling tinggi diantara makhluk Tuhan lainnya. Sehingga manusia memiliki keinginan untuk berkembang maju atau memakmurkan dunia. Tapi jika hanya mengandalkan ego atau nafsu kita betapa rendahnya kita.
Coba kita ambil pelajaran dari nenek itu, betapa mulianya nenek itu tetap berusaha menjalani anugerah hidup yang di berikan oleh-Nya. Tak pernah menyerah walaupun tubuhnya tuanya mulai rentan dimakan waktu. Dia menjalani hidupnya bagai air. Dia sadar hidup adalah ketidakpastian. Kadang hidup tak seindah yang diinginkan dan kadang keindahan datang ketika tak diharapkan. Baginya keindahan bukan suatu hal yang mahal, tidak harus sesuatu yang didambakan semua orang. Popularitas, materi, kekuasaan, ataupun hal lainnya yang banyak diperebutkan orang sampai mempertaruhkan segalanya untuk mendapatkannya.
Diatas langit masih ada langait, kenapa harus berlari menuju puncak tertinggi jika kenyataannya puncak adalah tak terbatas. Cukup nikmati perjalanan bukankah lebih baik. Bukan berarti tanpa berjalan menuju puncak.
“Kulo sing penting saget maem lan diparingi bagas waras niku mawon mpun seneng” (saya bisa makan dan diberi kesehatan saja sudah senang). Sebuah keinginan sederhana namun terasa nikmat mendengarnya. Sebuah harapan yang bagi kita suatu hal yang kadang kita abaikan. Diapun tak pernah menyesal menjalani hidupnya. Karena menuritnya hidup sudah digariskan, dia hanya harus berusaha agar tetap dapat menjalani hidup.
Itulah hidup, kalau penyanyi dangdut bilang "hidup penuh liku-liku", pepatah bilang " hidup bagai roda berputar", sedangkan d'masiv bilang " hidup adalah anugrah". " Hidup adalah pilihan", pilihan yang tak perlu disesali. Karena masa lalu adalah ilmu, masa depan adalah harapan. Harapan dari sebuah pilihan...
Alam pun telah memberi begitu banyak petuah tentang hidup. Termasuk nenek itu adalah sebuah pelajaran dari alam bagi kita yang mau mengambil pelajaran. Mungkin hidup ini seperti air. Fleksibel, menentukan pilihan sesuai keadaan. Ada saatnya harus berhenti, berbelok, berubah bentuk, atau pun diam. Air tak pernah menyesal, tak pernah kembli ke atas. Selalu mengalir dengan pilihan pastinya, dan berbelok jika terhalang...
“Sedikit bukan berarti tak berarti.”
“ Hiduplah seperti air. Mengalir, tenang walau menghancurkan, mengalah tapi menang, dan penuh kepastian.”
